October 28, 2021
BERITA

Akademisi : Pasraman Pondasi Awal Pendidikan Karakter

Akademisi STAHN Mpu Kuturan, Komang Agus Budhi: Hakekat pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral. “Pendidikan karakter itu tidak hanya berkaitan antara benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan

Singaraja, Info Pasraman Indonesia – Akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Komang Agus Budhi A.P, S.Pd., M.Pd mengungkapkan bahwa pola pendidikan pasraman baik formal maupun non-formal adalah pondasi awal dari pendidikan karakter anak sejak usia dini.

“Pondasinya adalah ketika usia emas anak-anak mendapatkan pengalaman belajar terkait ajaran agama yang sangat kental dengan nilai-nilai karakter,” kata Komang Agus di sela-sela kunjungan ke Desa Les, Kecamatan Tejakula.

Ia mengatakan bahwa hakekat pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral. “Pendidikan karakter itu tidak hanya berkaitan antara benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan sehingga anak didik memiliki kesadaran dan pemahaman yang tinggi serta komitmen dalam menjalankan hal baik setiap harinya,” papar dia.

Tujuan pendidikan karakter sangatlah luar biasa yakni meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik/brahmacari.

“Melalui pendidikan karakter pada satuan pendidikan pasraman akan mampu melahirkan anak didik yang memiliki nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan-kebiasaan baik di tengah masyarakat,” ucapnya.

Pihaknya mencontohkan pada pasraman formal dimana anak-anak pada usia dini akan dikenalkan dengan berbagai nilai-nilai etika seperti bersembahyang rutin, menghormati orang tua, berdoa sebelum makan dan lain sebagainya yang sangat kental dengan pengalaman belajar ketika anak berada di usia emas.

Kadang menurut dia, masyarakat utamanya umat Hindu menganggap pendidikan usia dini adalah hal yang sepele dan tidak penting dan cukup di sekolah saja. Padahal, pada ranah pendidikan tersebut anak akan belajar banyak hal yang menjadi pondasi karakter ketika beranjak menuju dewasa.

Baca Juga:  Prajaniti-DHI Dorong Pengembangan Pasraman di Indonesia

“Jadi jangan sampai orang tua menyepelekan pendidikan pada usia dini. Sangat penting sekali. Utama pada masa usia dini,” ungkapnya sembari menjelaskan bahwa pasraman formal baik formal maupun non-formal bisa menjadi alternatif solusi.

Komang Agus lebih jauh mengungkapkan bahwa masyarakat Hindu harusnya mulai melirik atas eksistensi pasraman-pasraman formal di berbagai daerah.

Baca Juga : STAHN Mpu Kuturan Dukung Pengelolaan 16 Pasraman di Banyuwangi

“Umat Hindu yang punya kok. Jadi harus kita yang support,” kata dia

Di sisi lain, pihaknya menyayangkan minat masyarakat yang masih sangat rendah menyekolahkan putra dan putrinya pada sekolah berbasis keagamaan Hindu yang ada.

“Memang patut disayangkan dimana minat masyarakat Hindu untuk menyekolahkan anak-anaknya (ke pasraman) masih tergolong rendah. Mungkin juga karena sosialisasi dan pemahaman yang masih kurang. Di Singaraja kota saja saat ini sudah ada dua PAUD/pratama widya pasraman tergolong formal. Satu di Desa Adat Banyuasri dan satu lagi di Bisma (Yayasan Saraswati),” demikian ujar akademisi yang juga aktif pada gerakkan pasraman di Pulau Dewata ini (IPI-oo1)

Related Posts