September 22, 2022
BERITA ESAI/OPINI

Menelisik Peran Acarya Hindu Dalam Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai upaya membentuk pola perilaku moral individu yang baik melalui proses yang berkesinambungan. Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membantu perkembangan jiwa anak-anak baik lahir maupun bathin, dari segi kondratinya menuju ke arah peradaban manusiawi yang lebih baik.

 

Hal ini sejalan dengan pemaknaan pendidikan karakter menurut bapak teori ini yakni Thomas Lickona yang mendefinisikan pendidikan karakter sebagai salah satu tindakan yang disengaja untuk membantu seseorang supaya ia mampu memahami, memperhatikan dan untuk melakukan etika – etika yang lebih inti.

 

Lickona lebih lanjut mengemukakan mengenai tiga komponen penting pendidikan karakte (conmponents of good character), yakni moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau tindakan moral

 

Wynne (1991) mendefinisikan bahwa karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari.

 

Pendidikan karakter pada hakekatnya memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan benar salah, tetapi bagaimana mengembangkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Tujuannya adalah peserta didik diharapkan memiliki kesadaran, pemahaman yang tinggi dan kepedulian serta komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

Peran acarya terkhusus dalam pendidikan agama dan keagamaan  memegang peranan penting dan sangat stretegis utama dalam membentuk karakter serta mengembangkan potensi siswa.

 

Keberadaan acarya yang handal di sekolah, baik secara perilaku dan akademis pada saat pembelajaran akan memosisikan guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru.

 

Pada sekolah, peran acarya sebagai role model sangatlah kentara. Pembangunan karakter tidak hanya sebatas pada kebiasaan menasehati siswa tetapi juga melalui persentuhan kualitas kepribadian dalam proses belajar bersama (Noor dalam Hermino, 2012: 124).

Baca Juga:  Bertemu Bupati Bangli, THS Singgung Penegerian Pasraman Gurukula

Selanjutnya, bagaimana spesifikasi guru agama pada sekolah umum dan acarya pada sekolah keagamaan? Guru/acarya pada sekolah keagamaan dan guru pada sekolah umum memiki tanggung jawab moral dan peranan lebih besar dalam membangun karakter peserta didik, utama dalam aspek moral dan karakter keagamaan serta religiusitas peserta didik.

 

Terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini, peran acarya dan guru pada sekolah keagamaan mesti mampu menempatkan diri sebagai sosok yang betul-betul peduli terhadap siswa.

 

Acarya bukan hanya berkaitan dengan memberikan materi semata, tetapi bagaimana mampu merealisasikan pemaknaan ajaran kepedulian. Acarya harus mampu menempatkan diri di hati siswa dengan terus berupaya menjalin komunikasi baik dengan anak bersangkutan dan juga dengan orang tua siswa.

 

Pandemi covid-19 mengindikasikan bagaimana siswa memiliki banyak waktu bersama keluarga utama orang tua. Disanalah peran guru agama dalam menanamkan rasa trust kepada anak melalui perantara dan peran orang tua.

Related Posts