September 22, 2022
PASRAMAN NON FORMAL

Rahajeng Hari Suci Tumpek Landep dari Pasraman Pasir Ukir Pedawa Bali

Terkait dengan hari suci tumpek landep ini kita dinasehati oleh salah satu teks bebantenan yaitu Lontar Empu lutuk, yang menyebutkan secara umum upakara atau bebanten mempunyai arti dan fungsi yaitu pertama, Upakara atau bebanten adalah cetusan hati umat Hindu di Bali khususnya untuk menyatakan rasa terima kasih baik kehadapan Ida Sang Hyang Widhi dan berbagai manifestasi-Nya ataupun kepada seseorang.
Misalnya banten saiban yang dilakukan setiap hari setelah memasak. Upakara yang dihaturkan kepada Sulinggih atau pimpinan upacara dan lain-lainnya. Kedua Upakara atau banten merupakan pelajaran atau alat konsentrasi pikiran untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasinya.
Misalnya bagi seseorang membuat banten maka dengan tidak sengaja dia telah membayangkan kehadapan siapa (ke pura mana) banten itu akan dipersembahkan. Demikian pula bagi orang yang sedang melakukan piodalan atau persembahyangan, bahwa Dewa atau Bhatara yang dipuja berada pada Daksina, palinggih atau tapakan yang telah dibuat.
Ketiga, Upakara atau banten adalah merupakan perwujudan atau tempat dari Ida Sang Hyang Widhi atau manifestasinya, misalnya Daksina pelinggih banten di sanggar pesaksi (sanggar tawang) adalah merupakan hulu, banten di paselang sebagai badannya/bhaga purus, sedangkan banten caru, sebagai suku sor. Demikian juga yang lainnya seperti kwangen, puspa sanggah urip, dan lain sebagainya.
Dari nasehat itu, jelas bahwa bebantenan adalah alat bagi umat untuk melakukan komunikasi kepada sang pencipta. Terkait dengan hari suci tumpek landep, maka ada sarana yang mesti dipersembahkan umat untuk melakukan komunikasi aktif kepada sang pencipta yaitu dengan mempersembahkan Banten Pasupati. Memahami lebih jelas tentang banten pasupati mari kita simak berikut ini. Pembentuk banten Pasupati sebagai berikut :
1. Dua buah taledan
2. Raka-raka (pisang, salak, jeruk, manggis, papaya, manga, tebu, tape, pelas,buah-buahan, jajan uli dan jajan gina)
3. Daging ayam biying mepanggang
4. Sebuah sampian metangga dari daun andong bang
5. Sebuah Penyeneng dari daun andong bang
6. Sampyan Pelaus dari daun andong bang
7. Dua buah tumpeng berwarna abang
8. Nasi soda dua buah berwarna abang
9. Sebuah ceper perangkatan tempat rerasmen pada soda
10. Sebuah kojong rangkat
11. Coblong berisi asaban cendana, majegau, dan base
12. Canang
Semua sarana diatas ditanding dengan penuh ketulusan untuk memohon ketajaman sekala maupun niskala. Adalah keliru jika pemujaan pada tumpek landep ini dilakukan pada semua benda dari besi, tetapi kunci yang sesungguhnya adalah pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati di Sanggah Kemulan.
Kenapa dilakukan pada sanggah kemulan? Perlu kita sadari bahwa beliau yang kita puja bersifat purusha dan pradhana, dan inilah cikal bakal dari kemulan dan taksu. Ayah dan ibu, gunung dan laut serta unsur feminim dan maskulin. Purusha kita puja pada kemulan dan pradhana kita puja pada taksu yang memberikan kita penguatan atas professional hidup.
Semoga dengan ini kita lebih memaknai apa yang kita lakukan sebagai bentuk pelantur budaya keberagamaan Hindu Bali…..
(Kadek Satria)
Baca Juga:  Here's how to make Kevin's famous fish cutlet from 'The Office'

Related Posts